TVPEMALANG.COM – Ratusan warga dan santri memadati Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Minggu (14/6/2026). Mereka berkumpul untuk mengikuti rangkaian ritual budaya menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah serta peringatan 1 Suro dalam kalender Jawa. Acara yang digelar oleh Perguruan Manunggal Jati Utama ini sarat dengan nuansa spiritual dan pelestarian tradisi leluhur.
Ketua Padepokan Perguruan Manunggal Jati Utama, Muhammad Khairudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nguri-nguri (melestarikan) budaya sekaligus upaya pembersihan diri (ruwatan) menjelang tahun baru. Tujuannya adalah memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat, baik di dunia maupun di akhirat.
“Kami mengajak masyarakat Pemalang untuk bersama-sama melestarikan budaya. Ini bukan soal mengagamakan, melainkan menjaga warisan leluhur yang ada di Desa Karangsari agar tetap hidup dan memberikan manfaat positif,” ujar Khairudin.
Salah satu acara yang menarik antusiasme peserta adalah prosesi pengambilan air suci yang memakan Waktu kurang lebih satu bulan di wilayah Pulau Jawa. Para santri padepokan, membawa kendi dan jerigen untuk menampung air yang diyakini memiliki khasiat spiritual. Air tersebut diambil dari 71 mata air yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Jawa, yang kemudian dibawa kembali ke padepokan.
Setiba di lokasi, air-air tersebut didoakan secara bersama-sama dan disatukan dalam satu wadah besar. Prosesi ini simbolis sebagai penyatuan energi positif dan harapan kebaikan dari berbagai penjuru tanah Jawa.
Usai prosesi air, suasana semakin meriah dengan dilaksanakannya Kirab Gunungan. Warga dan anggota padepokan bergotong royong mengarak gunungan yang berisi hasil bumi dari pertanian setempat. Arak-arakan ini mulai dari pintu masuk desa hingga tiba di Padepokan Manunggal Jati Utama di wilayah Karangsari Barat.
Sepanjang perjalanan, kirab diiringi dengan pentas seni tradisional yang menampilkan kekayaan budaya lokal. Puncak acara ditandai dengan sesi grebegunungan atau rebutan isi gunungan. Bagi masyarakat setempat, berebut hasil bumi dari gunungan ini dipercaya sebagai simbol mendapatkan berkah dan tolak bala.
Rangkaian acara ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, yang menjadi hiburan sekaligus media dakwah budaya bagi para hadirin.
Perguruan Manunggal Jati Utama sendiri dipimpin oleh Guru Besar Bambang Sukedi, dengan dukungan para pendamping utama yaitu Syarmanto, Aspuri, dan Bustomi. Menurut Khairudin, kehadiran tokoh-tokoh ini penting untuk memastikan ritual berjalan khidmat dan sesuai pakem.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan atau mistis, acara ini dinilai berhasil memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat. Interaksi antara warga, santri, dan pengurus padepokan menunjukkan harmoni sosial yang terjaga erat.
“Momen ini mengingatkan kita akan pentingnya spiritualitas, namun juga memperkuat ikatan sosial. Kita belajar untuk saling menghargai dan bekerja sama dalam melestarikan identitas budaya kita,” tutup Khairudin.
Dengan berakhirnya acara ini, masyarakat Karangsari dan sekitarnya berharap dapat memasuki tahun baru 1448 Hijriyah dengan hati yang bersih, jiwa yang tenang, dan semangat baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
” Hasan “












