TVPEMALANG.COM – Suasana haru, syukur, dan kebanggaan menyatu di Balai Syuro Desa Sodong Basari, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Jumat (8/5/2026).
Ratusan warga memadati lokasi untuk mengikuti Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-3 Kampung Juang An-Nahdliyah, sebuah momentum bersejarah yang menandai keberhasilan perjuangan reforma agraria sekaligus awal perjalanan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.
Perayaan berlangsung meriah dan sarat makna budaya. Acara diawali dengan kirab 281 tumpeng dan gunungan hasil bumi yang melambangkan rasa syukur warga atas kepastian hak tanah yang kini dapat mereka kelola secara legal dan mandiri. Setiap tumpeng menjadi simbol perjuangan satu kepala keluarga penerima manfaat reforma agraria.
Ketua Panitia Harlah, Teguh Udianto, menyampaikan bahwa perjalanan panjang warga dalam memperjuangkan hak atas tanah kini telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya warga fokus pada perjuangan reclaiming tanah, maka saat ini perhatian diarahkan pada pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
“Perjuangan berat sudah dilalui bersama. Kini saatnya membangun masa depan. Kami fokus memperkuat koperasi, mengembangkan kawasan agrowisata, dan menyiapkan hunian layak bagi warga,” ujar Teguh.
Puncak harlah turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Ketua Komisi II DPR RI Zulfikar Arse Sadikin, Direktur Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN Dr. Ir. Embun Sari, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BPK) Budiman Sudjatmiko.
Dalam sarasehan kebangsaan yang digelar, Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa Kampung Juang An-Nahdliyah menjadi contoh nyata keberhasilan reforma agraria sebagai strategi pengentasan kemiskinan ekstrem.
“Cara tercepat menghilangkan kemiskinan adalah memberikan akses kepada aset produktif berupa tanah. Apa yang terjadi di Kampung Juang ini akan menjadi model nasional,” tegas Budiman.
Ia juga mengingatkan bahwa sertifikat tanah bukan akhir perjuangan, melainkan titik awal menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, akan melakukan pendampingan selama 10 tahun guna memastikan lahan benar-benar produktif dan tidak dijual karena tekanan ekonomi sesaat.
“Jangan sampai tanah sudah dibagikan, tetapi kemiskinan tetap ada karena asetnya dijual. Pendampingan ini adalah bentuk komitmen agar masyarakat benar-benar mandiri,” tambahnya.
Para narasumber menilai keberhasilan reforma agraria harus dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Warga didorong memanfaatkan teknologi pertanian modern, memperkuat koperasi, serta membangun sistem usaha bersama agar hasil pertanian memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi.
Kini, Kampung Juang An-Nahdliyah tidak hanya menjadi simbol kemenangan perjuangan agraria, tetapi juga harapan baru lahirnya desa mandiri dan sejahtera di Kabupaten Pemalang. Semangat gotong royong yang dipadukan dengan pengelolaan profesional diyakini mampu menjadikan kampung ini sebagai inspirasi nasional dalam membangun kedaulatan pangan dan ekonomi rakyat.**Hsn.













