TVPEMALANG.COM – Kemeriahan tradisi lokal kembali menyedot perhatian besar masyarakat dalam gelaran Ruwat Bumi Penakir 2026. Ratusan warga tampak memadati Lapangan Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/6/2026) demi menyaksikan dan mengikuti jalannya prosesi kirab gunungan.
Gunungan yang tersusun dari beragam hasil bumi—mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, palawija, hingga palapendem—diarak secara khidmat oleh warga setempat. Di akhir prosesi, hasil bumi tersebut diperebutkan oleh masyarakat yang hadir. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, tradisi turun-temurun ini menjadi simbol kerukunan, ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, serta bentuk penghormatan terhadap kelestarian alam.
Kepala Desa Penakir, Agus Riyadi, menyampaikan bahwa kesuksesan agenda Ruwat Bumi ini merupakan buah dari sinergi yang solid antara pihak pemerintah desa dan seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian acara sendiri sudah mulai bergulir sejak hari Jumat melalui serangkaian ritual adat dan sosial.
“Prosesi Ruwat Bumi dimulai hari Jumat dengan doa bersama di sumber mata air. Berikutnya ada khoul umum, santunan untuk anak yatim, lalu dilanjutkan dengan Acara Festival Takiran serta pertunjukan wayang kulit,” jelas Agus.
Agus juga mengisahkan latar belakang sejarah di balik nama desa mereka yang erat kaitannya dengan istilah ‘Takir’.
“Takiran itu berasal dari kata Takir. Sejarahnya dulu, Desa Penakir dinamai dari kata tersebut. Konon, ada seorang wali pengembara yang meminta air, lalu warga setempat memberinya air menggunakan wadah takir. Itulah mengapa desa ini dinamakan Penakir, dan di sini kami memiliki sumber mata air alami yang tidak dimiliki oleh tangga Desa,” paparnya.
Melalui momentum ini, Agus menaruh harapan besar agar masyarakat bisa terus menjaga konsistensi kebersamaan ini di masa mendatang. “Harapan kami,
Masyarakat tetap percaya kepada panitia, senantiasa istiqomah, dan semoga tahun depan acaranya bisa dikemas jauh lebih meriah lagi karena ini merupakan agenda tahunan kita,” imbuhnya.
Di lokasi yang sama, geliat pemuda desa turut mewarnai jalannya acara. Ketua Pemuda Pandawa Lima Dukuh Krajan, Selamet Masrukhi, menyebutkan bahwa momen Ruwat Bumi tahun ini sengaja diselaraskan dengan Hari Lahir (Harlah) P25K (Pemuda Pandawa Lima Dukuh Kerajaan ).
Keterwakilan warga dari 5 wilayah RT di Dukuh Krajan ini berkomitmen untuk bergerak satu komando demi kemajuan desa.
“Kami memohon Doa restu dari seluruh elemen masyarakat agar organisasi Pandawa Lima ini dapat berjalan sesuai dengan skema dan kesepakatan yang telah kami bangun bersama di Dukuh Krajan,” ujar Selamet.
Ia menegaskan bahwa esensi utama dibentuknya wadah Pandawa Lima adalah untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga soliditas pemuda, sekaligus membentengi lingkungan dari potensi konflik internal.
“Tujuan Pandawa Lima adalah menjaga kekompakan dan jalinan silaturahmi di Dukuh Krajan. Kita tidak bisa memungkiri, dalam sebuah kelompok terkadang ada saja sosok ‘Sengkuni’ yang sifatnya memperkeruh suasana. Makanya, lewat kesatuan ini kita satukan persepsi agar semuanya guyub rukun. Kalau kita sudah bersatu, event sebesar apa pun pasti bisa kita jalankan bersama,” pungkas Selamet.
” Hasan “














